P.S. I made this...
Halo keluarga Indonesia, mari ngemil Gethuk Lindri dengan Saus Napolitan...:)
Halo keluarga Indonesia, mari ngemil Gethuk Lindri dengan Saus Napolitan...:)
Evaluasi di bulan april, Tanggal 21 April dikenal sebagai Hari Kartini. Tahu sendiri kan perjuangan ibu kita Kartini mengangkat derajat kaum wanita , salah satunya dalam bidang pendidikan. lalu yang jadi pertanyaan? Mengapa harus Kartini?Mengapa bukan yang lain?padahal pahlawan wanita bukan Kartini saja. ada Cut Nyak dien, de el el yang aku juga ga hafal. yang pasti bukan Cut Tari. Mengapa harus Kartini? Kartini menggugat. Kartono diam tak bergeming. #kemudian senyap -sekian
Aku tidak butuh pujianmu, aku tidak butuh rayuanmu, aku tidak butuh janji-janjimu, aku tidak butuh ucapanmu, aku tidak butuh perubahanmu.
tiket emas dari ibumu sudah ditangan. the Golden Ticket
sudah.
Berusahalah. BERUSAHALAH. BERUSAHALAH!
SSC7Y
SEMANGAT!SENYUM!CERIA!YAKIN!YAKIN!YAKIN!YAKIN!YAKIN!YAKIN!YAKIN!
semoga tidak mengecewakan, semoga dimudahkan. Akan Kutaklukkan!
-ale23:01 PM


kata seorang teman,sebut saja Vatika,”jika inginkan yang baik, maka jadilah yang baik dan carilah dengan cara yang baik pula.”
mengapa sulit?mengapa berfikir itu sulit?mengapa sulit melakukan perubahan ke arah lebih baik dgn ikhlas?
aku tahu itu. TAHU sekali. sangat tahu. jika ingin mendapatkan kan keinginan , harapan, cita-cita kita memang harus BERUSAHA dan pengorbanan yang besar. bersakit-sakit dahulu baru bersenang-senang.
tapi, mengapa itu sulit bagiku?mengapa berubah menjadi lebih baik itu sulit?mengapa lebih mudah berkata daripada bukti ikhtiar pada sang Pencipta.
Karena hal-hal buruk terasa nikmat dan melenakan dan jadi melakukan hal baik seperti terasa sulit nak, kata Vatika
bodohnya, aku menginginkan hal itu sekejap terjadi. cling! seperti sihir, mukjizat dan karomah dari Allah. tiba-tiba saja aku jadi mahasiswa arsitek ITB, bukan mahasiswa Sipil Unibraw Malang.
ya memang, itu Cita-citaku?ambisiku?nafsuku?entahlah.
—->berhenti mengeluhkan sulitnya dan mulai berupaya. apa yang kamu pikirkan akan mempengaruhi apa yang kamu lakukan dan apa yg kamu lakukan ap yg akn kamu hasilkan.
PERBUATAN (IBADAH) TANPA KEIKHLASAN & ITTIBA (MENGIKUTI NABI) BAK MUSAFIR YANG MENGISI KANTONGNYA DENGAN KERIKIL, MEMBERATKANNYA TAPI TAK BERMANFAAT. (IBNUL QAYYIM)

Pebuatan (ibadah) tanpa keikhlasan & ittiba (mengikuti Nabi) bak musafir yang mengisi kantongnya dengan kerikil, memberatkannya tapi tak bermanfaat. (Ibnul Qayyim)
tahukah hatiku galau
tak tahu harus melangkah
sejak pertama mata jatuh menatap
hatiku tak pernah dusta
*courtesy of LirikLaguIndonesia.Net
bila cintaku ini salah
hatiku tetap untukmu
namun kenyataannya parah
dirimu tak pernah untukku
mencoba lupakan keinginan hati
namun tak ingin ku menyerah
tapi mengapa bila ku mendekat
rasanya semakin jauh
bila cintaku ini salah
hatiku tetap untukmu
namun kenyataannya parah
dirimu tak pernah untukku
ternyata ku hanya bisa ooo
menggapaimu di mimpiku
namun kenyataannya parah
dirimu (dirimu) tak pernah untukku
(bila cintaku ini salah
hatiku tetap untukmu
namun kenyataannya parah
dirimu) dirimu (tak pernah untukku)
bila cintaku ini salah
hatiku tetap untukmu
namun kenyataannya parah
dirimu tak pernah untukku
dirimu tak pernah untukku
now playing :
Christina Perri - A Thousand Years
Yovie and Nuno - Man Jadda wajada

kau dengar?sebuah teriakan seorang anak di dalam sebuah lagu Man Jadda wajada?apa?
habiskan. goyahkan hatiku, teguhkan imanku, berhentikan posisiku, tegakkan aku berdiri, dudukkan aku berjalan. terbangkan aku ke jiwamu. seperti kapas. galaukan ingatanku. seperti asa. mantapkan mimpiku. seperti batu. tunjukkan lupaku. seperti bohong. hanya Rabb-ku yang tahu. hanya Dia. retorika hujan. replika embun. entahkan dan enyah.

hari ini tanggal 18 Januari 2012
Habis UAS bahasa Inggris bersama keempat teman baruku, heni, gefrin, dan intan mengunjungi pameran anak arsitektur.
lagi-lagi dilema, galau. bosan banget seperti ini terus. gara-gara ketiga orang itu bilang, “pul gimana?galau?mantapkan hati pul… tergoda pul”
yah, aku lumayan tergoda dengan dwimatra dan trimatra yang dipamerkan. tapi tidak begitu kuat saat naik ke lantai 2. Subhanallah.banyak sketsa-sketsa wajah, bangunan, ruang dalam tiga dimensi. pencampuran warna yang halus, kontras, absurd tapi ada yang masuk akal juga. memakai rapido. kertas kalkir.
lalu kertas hitam diskets dengan pensil warna putih. waaaahhh…
perkataan Gefrin lagi-lagi bikin dilema, “kamu itu ngapain di sipil, cuma gambar itu-itu saja, kusen, pondasi dan denah. kamu itu cocoknya di desain grafis atau arsitektur, gambar kayak gini…sudahlah”
batinku, nih orang sotoy banget ya ^^v
tapi yah itu sudah cukup membuat bimbang.
akankah aku mencoba nasibku disana?mencoba keberuntungan lagi dengan mengikuti ujian SNMPTN lagi…
wait and see deh…
“Jika banyak tangis yang terdengar…hati akan menjadi lembut…”
“Jika semua orang melakukan apa yang mereka pikirkan…hati jadi puas…”
~ Luna Torashyngu ~

Tetes – tetes air hujan berirama memukul daun jendelaku. Tak terusik dingin gelapnya malam. Pergolakan suara di atas sana saling berbenturan, tak berarti walau mendung sudah terarah, pertanda hujan deras. Duduk disini, mengetuk – ngetuk pensil ke meja mengikuti alunan musik Time is Running Out-nya Muse, menyorat-nyoret, lalu berdiri mondar-mandir.
“Daripada mondar-mandir kayak setrikaan mending nonton film, filmnya bagus nih,” Aku tak menggubris ajakanmu. Masih memeras otak, lalu terpecah….
Ringtone Handphoneku berbunyi tanda ada sms masuk.
“Dari cintamu, tuh!” Aku mengelak, “bukan! Enak saja, orang aneh gitu.” bergegas merebutnya dari tanganmu, tak peduli besok ada ulangan Fisika dan PR yang masih menumpuk, tak peduli akan senyumanmu yang penuh arti. Masa bodoh. Sudah cukup senang yang berarti.
JJJ
Di sebuah sekolah, SMA Negeri 2 Pare.
“Dina!” ada suara yang memanggilku. Aku menoleh. Ternyata Rika, sahabatku sejak kecil, seorang akhwat yang benar – benar akhwat yang kaffah, sahabat yang benar – benar “sahabat”…sampai sekarang ini…
“Hei, ada apa?” tersenyum,
“Sudah belajar Fisika? peh, aku sudah belajar tapi, tetap aja nggak ngerti. Kamu sudah belajar sama Abimu, kan? ajarin dong nanti,” serbu Rika.
“Alhamdulillah sudah, aku juga nggak ngerti,” aku tersenyum, aku bohong padahal kemarin aku sms-an sama kakak kelas, dan nonton film.
“Semoga ulangannya nggak jadi,” harap Rika menerawang. Dalam hati aku mengamini dengan keras. Amin! Ya Allah!
“Hei, bagaimana kabar teman barumu, si Melly?” tanya Rika tiba – tiba. Aku terhenyak.
“Kamu kenal dia lewat Facebook, kan? kapan nih aku dikenalin?….” “…katamu anaknya asik banget ya?” tanya Rika lagi.
“Secepatnya!” jawabku bersikap biasa.
“Tapi, Din, kata Ustadzahku harus hati-hati dengan Chatting lho…”Aku tersinggung.
“Nggak usah, njelek-njelekan temanku deh, kamu kan belum kenal! Kalo Ustadzahmu mau ceramah, jangan ke aku, ke pengajian sono!”
Aku secepatnya berlari meninggalkan Rika menuju ke kelas. Aku dan Rika sekelas. Aku tidak suka Rika menjelek-jelekkan Melly. Rika kan belum mengenal Melly. Melly itu orangnya asik beda sekali dengan Rika yang Eksklusif. Pokoknya enak deh kalau melakukan sesuatu dengan Melly. Jadinya, saat Rika masuk aku mengacuhkannya, menghindar. Pikiranku semakin berkecamuk. Masa bodoh! Yang penting sekarang ulangan Fisika. Alamat!!! aku belum belajar, nggak bisa nyonto lagi, harapan tinggal harapan, pasrah aja deh, semoga ada keajaiban.
JJJ
Saat pulang sekolah, pukul 16.00 WIB
“Dina!” aku yang buru-buru pulang terpaksa menghentikan langkah. “Tadi maaf ya, sudah njelek-njelekin Melly” sesal Rika.
“Nggak apa-apa, aku juga salah membentakmu seenaknya.” Sahutku.
“Ikut aku yuk, ke Rohis (red:Rohani Islam) ada pengajian keputrian.” Ajak Rika.
Dengan malas aku menjawab, “Aku sudah janji sama Melly.”
“Temanya bagus lho buat kita, para remaja,” Rika tidak mau menyerah. “Maaf Rika, ini urusan yang sangat penting.” Belaku. Aku pun cepat-cepat pulang sebelum timbul pertengkaran lagi. Di jauh sana, aku pun tidak tahu, Rika melihat dalam diamnya dengan menghela napas, seperti berdo’a.
JJJ
Di rumah, Melly sedang menungguku dengan gusar, “Dari mana aja sih kamu? Sampai aku ngoyot nunggu kamu,” Ujarnya marah.
“Maaf, tadi ada sedikit masalah,” jawabku.
“Rika lagi?” tebaknya tepat. Dan aku tak menjawab.
“Sudahlah, nggak usah dipikirin…sekarang yang penting kita cabut yuk, konsernya sebentar lagi mulai nih….” “…..pulang nanti, shopping yuk!” rayu Melly. Aku mengangguk semangat.
JJJ
Di sebuah konser musik ternama, —-memperingati ulang tahun sebuah perusahaan merk rokok terkenal—-. Hingar bingar suara petikan gitar, dentuman drum beradu dengan stik drum, suara bass yang melengking bersatu padu dengan teriakan penonton, berisik semua gerakan. Tak peduli lelah yang merayap. Aku pun bergerak mengikuti alunan musik, Melly lebih heboh lagi. Dia menari dengan penuh semangat. Masa bodoh! Pikirku. Aku melihat jam tanganku, pukul 17.30 wib sudah Maghrib….nanti aja sholatnya…
Konser selesai jam 19.00. Sekali – kali sholat Maghribnya digabung sama sholat Isya, nggak apa-apa kan? pikirku nakal.
JJJ
Di sebuah Mall
Setelah sholat Maghrib, Aku dan Melly ber-shopping ria. Beli baju baru, beli CD MP3 My Chemical Romance, Muse, Jason Mraz dan menyewa beberapa film-film baru. Mampir sebentar di Kafe ah…
JJJ
Sesampai di rumah pukul 21.00 wib.
Memang pas dengan batas waktuku keluar rumah. “Dari rumah teman, Ummi, ada belajar kelompok.” Jawabku saat ditanya Ummi habis darimana. “Lain kali kalo belajar jangan sampai malam-malam, pamali,” saran Ummi.
Aku cuma mengangguk, Melly? dia cekikikan di sampingku. Aku terlelap dalam tidur, lupa belum sholat Isya’.
JJJ
Di kelas X-B, saat jam istirahat
Teriakan – teriakan dari kelas sebelah, tawa cekikan teman – teman tak menyurutkanku untuk membaca Komik Death Note. Aku berkonsentrasi membacanya, tak ayal aku tak sadar Rika sudah berdiri di depanku, memanggilku berkali-kali.
“Din…Dina!” panggil Rika.
“Eh…eh..ya?” aku gelagapan.
“Nanti mau nggak menemani aku ke Bazar Buku Islami di Kandat?” ajaknya.
Aku berpikir sejenak, “kapan?”
“Habis pulang sekolah nanti,” jelasnya.
“Wah, maaf nggak bisa aku,” tolakku.
“Ada janji sama Melly ya?” tanyanya dengan penuh memelas.
“Yups!” jawabku dengan bangga.
Lalu hening, seakan tak ada tawa dan cekikikan lagi, seperti terlempar ke dimensi lain. Lama sekali sampai aku mendengar nafas dan detak jantungku.
Kami sama – sama diam seribu bahasa. Aku kembali berkonsentrasi pada komikku. Lalu….
“Kamu berubah ya, Din?” tanya Rika blak-blakan.
Mengganggu konsentrasi membaca ja nih orang, aku upayakan untuk mendongak, peduli…penuh tanda tanya besar.
“Ya, kamu berubah 180°, nggak seperti dulu lagi….” aku berusaha memahami “….Biasanya kamu tidak menolak kuajak ke Bazar Buku, malah semangat…tapi, sekarang boro – boro semangat, megang buku Novel atau apapun nggak mau, bawaannya komik melulu…” sudutnya.
Aku tak peduli, kubiarkan dia melanjutkan, “Saat pelajaran Agama, kamu malah ijin sakit ke UKS,” imbuhnya.
“Gurunya kan memang nyebelin, forum diskusi malah tuh guru ikut campur, padahal kan forumnya anak-anak, seakan tuh guru keyakinannya selalu benar dan memaksa anak-anak ikut keyakinannya,” aku memberi penekanan pada beberapa kata-kata, mencoba membela diri, kubiarkan komikku tergeletak.
“Ya, aku tahu…teman-teman kita podho nggak senang ma tuh guru, tapi mbok jangan seperti itu….dan kamu berubah kayak gini sejak kenal dan berteman ma……Melly…”ujarnya hati – hati.
Aku tak habis pikir, “Rik!! Kamu jangan sok ngatur – ngatur aku yo…kamu tuh siapa? Abi? bukan, Ummi? juga bukan,” aku terbawa emosi. “Dan jangan nuduh Melly dong, kamu tuh ngaca, punya kaca nggak sih dirumah? Ngelarang aku sms-an ma Satrio, nggak usah sok suci deh!” Rika terkaget-kaget mendengar ucapanku.
“Ta…tapi, aku tidak bermaksud….”ucap Rika takut mendengar kemarahanku.
“Ah sudahlah! Muak aku! Kamu sama aja ma yang lain, ngatur – ngatur hidup orang, atur ja tuh hidupmu sendiri, orang tuamu, hidupmu juga semwrawut gitu…” aku lupa ini rahasia terbesarnya, orang tua Rika sudah bercerai.
“…..aku nggak mau berteman denganmu lagi!”ucapku kejam.
Aku mengambil tas dengan paksa, lalu pergi. Aku tak peduli, jam sekolah belum selesai, aku tak peduli mukaku semengerikan apa, aku tak peduli orang – orang di jalan melihatku. Aku muak dengan semuanya, aku benci! Biarlah Rika menangis, aku tak peduli. Titik!
JJJ
“Hiks!hiks!hiks!….huwwaaaa….huwwwaaa….!!!”aku menangis tersedu – sedu di kamar, beruntung di rumah sepi. Tissue satu kotak sudah habis, basah penuh oleh air mata. Melly dengan cueknya menghias kukunya. Aku masih menangis.
“Ah! biarlah teman yang seperti itu, nggak usah dipikirin, kamu kan bisa nyari teman yang baru lagi, dan kamu juga masih punya aku,” ujar Melly niatnya menghibur.
Aku diam, kubiarkan dia nyerocos begitu aja.
“Di banding Rika, aku adalah sahabat yang baik, nggak suka ikut campur urusanmu, aku selalu membuatmu tak pernah bersedih….”
“….dia adalah teman yang menyesatkan bagimu, jauhi saja dia,” tambah Melly merayu.
Lalu, aku seperti melihat sebuah film, dan aku hanya tinggal menontonnya tanpa bisa melakukan apapun, termasuk menekan tombol Play pada Remote. Flashback apa yang kulakukan selama ini, dari kecil, saat aku bermain dengan Rika waktu umur 5 tahun dan kami terjatuh bersama, tertawa bahagia, lalu pertengkaran kecil kami saat SMP karena aku ngeyel ingin nemenin Rika waktu orang tuanya bercerai, dan menginjak SMA, aku mulai mengalami akan perasaan yang kompleks, Falling in Love, malas belajar, mengamburkan – hamburkan uang, menunda – nunda Shalat dan semua ini gara – gara……
“Melly!!!” aku geram, film pun seketika berhenti.
“Hentikan semua perkataanmu tentang Rika!”
Melly terhenyak, “Hei! bukankah itu kenyataan?”
“Tidak! Rika tidak seperti itu,” jeritku
“Ah, Munafik! sebenarnya kamu juga beranggapan seperti itu ta?” Dia tersenyum mengerikan.
Aku mengelak. Lagi – lagi flashback itu lagi. Kali ini aku melihat Abi dan Ummi menangis. Ya Allah! Maafkanlah aku….
Aku sadar, “Kamu sudah menyesatkanku, selama ini kau mengajakku ke arah yang tidak benar,”
Melly menolak tidak terima, “Hei! Bukankah itu yang kau inginkan? Beli CD MP3, alat-alat kosmetik, baju baru yang tidak mungkin dikabulkan Abi dan Ummimu yang sok alim itu,”
“Jangan menjelekkan orang tuaku!!!” Aku sudah nggak bisa menahan amarah ini. Aku mendorong Melly sampai jatuh terjerembab di depan meja riasku.
“Kamu juga lupa bahwa kita ini satu tubuh? Apa yang kulakukan, juga apa yang kau lakukan begitu juga sebaliknya, aku adalah kamu, dan kamu adalah aku!!” Melly menunjuk – nunjuk mukaku dan mukanya lalu menarikku ke cermin. Mirip!
Aku menolak, aku mendorongnya lagi, “kamu benar – benar menyebalkan, kamu menjauhkanku dari Allah!” aku mulai menangis.
“Hei! Jangan sebut – sebut nama jelek itu,” pinta Melly “Oke deh, aku minta maaf tapi jangan sebut nama itu lagi ya? kita lupain ja masalah ini, oke Din?” Melly tersenyum menghibur.
“Benar! Kita lupain aja masalah ini….Karena aku akan menghentikannya!” ucapku gigih, aku menghapus air mataku dan mengambil Al-Qur’an yang sudah berdebu. Miris. Tahu gelagatku, Melly buru – buru menghentikanku. Aku tak peduli. Melly mencoba merebutnya dariku, tapi kutepis.
Melly tidak putus asa, ia mencoba mencakarku. Dan mencakar tanganku. Aku berusaha membaca Al – Qur’an.
Saat aku membaca Ta’awuds, Melly mulai menangis meraung-meraung. Mataku basah oleh air mata, berusaha menghilangkan perasaan kasianku, aku harus tetap membacanya ayat apa saja, aku mulai membaca Al – Baqarah. Melly sudah berteriak kepanasan.
Tak terasa, bulir – bulir air mataku jatuh semakin deras, semakin aku terus melantunkan ayat suci Al – Qur’an, semakin tercium bau hangus terbakar. Bau yang memuakkan. Dan tangisan Melly hilang. Melly pun lenyap.
Alhamdulillah wa syukuurillah! Hatiku lega. Rasa kangen yang hilang telah terobati, perasaan yang kosong sudah terisi. Ya Allah, mengapa baru sekarang ini hidayah datang? Terngiang – ngiang ceramah pak Ustadz dalam pengajian yang terkahir kuikuti.
“….Al imaanu yazidu wa yanqhusu yazidu bit thaat wa yanqhusu bi maksiat…iman itu naik turun, naik karena ketaatan dan turun karena kemaksiatan.…”Aku mulai menangis lagi, aku jadi cengeng. Biarlah ini tangisan taubat, Insyaa Allah Taubatan Nasuha. Tapi, aku tahu Melly pasti akan kembali lagi, lebih keras usahanya. Ya, Allah semoga aku tetap Istiqomah di Jalan-Mu, Amin!
ditulis,dibuat oleh Jundina Syifa’ul M.
demi memenuhi tugas Bahasa Indonesian menulis cerpen
18/05/2009
Di sebuah kamar, saksi bisu perjuangan
Malam menggigil ketika selembar kartu ucapan berwarna hijau muda menyembul keluar dari sela diary kecilku. Tulisan rapi berhiaskan tinta perak menyembul dari baliknya. Perlahan kuraba kata-kata mutiara penuh makna itu. Anganku mulai mengembara. Menyusuri jejak waktu yang hilang. Mengingatkanku pada kenangan empat tahun silam. Kenangan yang tak bisa terlupakan…..
12 Juli 2005
Hola Dy, mungkin baru pertama kali aku corat-coret tubuhmu. Ya..tentu saja aku kan baru beli dirimu tadi siang diperempatan Jalan Yos Sudarso. And, aku juga baru tadi siang ngubur kakakmu ke kotak rahasia (ehm!). Kenalkan Dy, nama aku Adzkia Zahra, biasa dipanggil Ara. Sering makai sarung tangan tebal tapi transparan. Biar kulit aku tak tersentuh oleh makhluk yang bernama ikhwan (yang bukan mahrom). Pakai jilbab lebar. Di lekukan bibir ada tahi lalat (tanda lahir). Jika menemukan orang ini harap hubungi nomor 0354 123456 (he..he..just kidding.) aku baru lulus from SMP Islam Al-Fath. Sebentar lagi liburan berakhir, aku akan menikmati pemandangan baru di SMA 2 Pare. Doakan aku dapat inceran baru (Huss!), he..he..maksud aku teman baru, gitchu!
14 Juli 2005
SMADA, I’m coming. Waah, gaswat Pra-MOS diadakan selama tiga hari. aku and anak-anak yang lain diperintah untuk berjemur,jongkok-berdiri and lompat kodok di siang bolong begini. Wuiih, meskipun capek aku kudu berjuang. Berjuang…!
15 Juli 2005
Hari Pra-MOS kedua, aku and anak-anak yang lain disuruh untuk meminta tanda tangan para senior-senior. Wuiih..banyak banget and tidak mudah untuk mendapatkannya,ada yang disuruh untuk nyanyi,nari and berjalan, maksudnya berjalan dengan tanpa dua kaki. Yaah, mirip-mirip suster ngelesot. But, untung yang jilbaber tidak diperlakukan gitu karena ada mbak Azizah, ketua kerohanian putri dan mas Azis, ketua kerohanian putra yang melarang seperti itu. Para senior-senior itu langsung keder sambil mengkeret. Mereka itu cukup disegani disini. Mereka saudara kembar tapi beda (jenis kelamin). Mereka tegas tapi bijaksana. So, para senior-senior langsung lari terbirit-birit. Mereka berdua benar-benar spiderman and spiderwoman aku. Meskipun begitu, kami para jilbaber tidak diam saja. Sebagai gantinya, kami disuruh untuk keliling lapangan basket 10x, menghitung berapa burung dilukisannya pak Naryo dan semut dipohon jeruk itu. Uuuh…sama aja, neng, kang !
16 Juli 2005
Syukurlah, ini hari terakhir Pra-MOS. Kemarin, kita disuruh memakai tas plastik hitam untuk hari ini, malu Dy, dilihat abang bakso dan bang becak. Yaah, namanya juga Pra-MOSnya SMADA, Pede aza lagi! Hore! Besok hari ahad, aku mau nyantai ah. Semoga hari ini cepat berlalu…
18 Juli 2005 hari pertama MOS
Uuhh..datanglah lagi hari ahad, jangan tinggalkan diriku…“Uaaah”kantukku mulai datang. “Huss! Ara, nggak sopan tau!”ujar salah seorang teman disampingku. Siapa sich yang pidato disaat orang lagi tidur. Oh, pak Kadi…ngomong apaan tuh, aku kagak ngerti. “Apa!” mataku jadi membelalak, beliau akan berpidato selama 24 jam (nggak ding!) maksudnya sampai tanggal 20 Juli. Uaaah!!!!!
20 Juli 2005
Ini hari pertamaku benar-benar mengecap bangku SMA. Eiit, tunggu dulu makhluk apa itu? Handsome and cool banget (es ngkali), rambutnya sengak mirip pohon cemara, sepertinya mirip…(masya Allah, muslimah koq jelalatan sich, istighfar ente). Terbuat dari apa yaa makhluk itu? Jadi inget tokoh Dira di cerita Dealova, tampan, cool and misterius, cuma ada tahi lalat dileher kanannya. Sepertinya, anak itu produk broken home.
Oh, tenyata namanya Zeus, nama apaan, tuch! Namanya kayak babenya Hercules, dech! Eit, apaan-apaan nich ada seseorang yang narik tangan aku, nich. Aku kan baru keluar dari toilet, siapa sich? Masya Allah, Zeus! ngapain anak itu disini, didepan toilet anak perempuan lagi, kan bisa timbul fitnah. Eh..eh..apaan-apaan lagi nich. Anak itu menarik tangan aku, nich. Toloooong! somebody help me!!! anak itu mau bawa aku kemana, nich. Oh, kebelakang gudang. Eeeh, mau ngapain, tolooong. Hooh…hooh…aku kecapean. Ssst..mereka nggak ada,kan? (emangnya ada apa, Us?) “gue…hooh..dikejar ama…guru tatib..hooh” ujar Zeus. “Ngapain juga ngajak aku!” semburku. “Nggak apa-apa, cuman ingin lihat aja lo kalo marah gimana, ternyata cantik juga.” Zeus tersenyum menggoda. “Plaaak!”aku tampar dia meninggalkan bekas merah dipipinya. And “Duaaak!” “Aduh, lututku.”dia meringis kesakitan. Aku menendang kakinya dengan keras tapi koq kena lututnya, sich. “Sampeyan pikir akhwat itu mainan, sampeyan itu benar-benar nggak sopan dan nggak bisa hormat(menghargai) akwat dan..sampeyan durung weruh materi Ghodul Bashar, ya!” semprotku. Waah, keluar juga logat jawaku.
Masih 20 Juli 2005. Tapi malam.
But Dy, dia benar-benar keterlaluan lho, masa akhwat sama ikhwan tidak dibedain sich.
Boro-boro, mending curhat ama mbak Azizah. Oh,ya! aku belum cerita kalo mbak Azizah adalah kakakku. Kemarin kan sudah aku ceritain kalo mbak Azizah mempunyai saudara kembar yaitu mas Azis. So, mas Azis juga kakak aku. Mbak Azizah lahir cuma beda satu menit saja sama mas Azis. So, lebih tuaan mbak Azizah, dong. Mbak sekolahnya sama denganku tapi dikelas XI-IA-1. Yaahh, beda satu tahun lah! Kalo mas Azis kelas XI-IA-1 juga tapi sekarang doi lagi meringkuk terbang kealam mimpi. Baru juga pukul 20.00.Dasar tukang tidur!!!
Koq, jadi ngelantur kemana-mana, sich. Akhirnya aku cerita dari A-Z sama mbak Azizah, Mbak Azizah cuma manggut-manggut saja, aku cuma bisa menghela napas. “Buka suara dong, mbak, jangan-jangan ketularan sama Roy Hin, tetangga sekaligus temanku dari keluarga Tionghoa yang sering main kesini. Anak itu Leo (lemah otak) sama bunget, tapi dia cerdas dalam pelajaran menghitung dan dia baik banget sering ngasih coklat (makanan kesukaanku) padaku.” mangkelku dalam hati. “Mbak akan diskusikan hal ini dengan Azis.”singkat mbak Azizah. Syukur, Alhamdulillah segala puji bagi Allah tuhan semesta alam kakakku tidak leo dan bunget. Aku langsung sujud syukur (nggak sampai gitu, ding!).
21 Juli 2005
Waah, selebaran apaan, nich “Jika ente-ente tidak mau disebut sebagai manusia kuper, datang aja pada tanggal 23 juli bertempat di masjid Al Furqon (pukul 06.00-selesai). Tema tentang bagaimana Islam menghargai wanita dengan berpakaian muslimah. Jangan lupa ya..”
Uuuh…bohong! uhh…bete! Katanya mau bantu, koq gini sich! Seharusnya temanya jangan itu, Ghodul bashar, kek! Pergaulan dalam Islam ,kek! Uuuuhhhh, bohoooong!
23 Juli 2005
Subhanallah, lumayan ternyata ramai juga, ya. Berarti Rohis cukup digemari banyak orang. Tempat duduk pun terpisah. Syukurlah..
“…Jadi, kita jangan sampai melihat beratnya pakaian muslimah seperti gerah, ndeso, merasa terkekang dan kampungan. Semua itu tak ada artinya dengan keuntungan memakai baju muslim. Selain wajib, dengan berpakaian mulimah akan memperjelas identitas kita sebagai seorang muslimah dan kita juga terhindar dari tangan usil dan jahil. Bagaimanapun juga, seorang muslimah yang telah memakai jilbab itu lebih baik daripada yang belum memakai jilbab, karena jilbab dan pakaian muslimah adalah simbol ketaqwaan seorang muslimah kepada Allah swt.” begitu uraian dari pak Ustadz.
“Ehm, saya mau tanya?” seru seseorang secara tiba-tiba. “Oh ya, silakan ukhti !” seru pak Ustadz. Lho. Itu kan si Zeus! aku nggak heran kalau dia nanya. Tapi, koq dia dipanggil ukhti, sich! Apa jangan-jangan dia…..ah, mana mungkin.
“Bagaimana kalau kita jadi nggak mau pakai jilbab karena resiko yang berat itu? Seperti dilarang oleh orangtua, nggak boleh pacaran tapi shalatnya harus lancar ngajinya juga.” lanjut Zeus. Ustadz tersenyum. Subhanallah…ternyata dia bisa ngomong seperti itu juga.
“Itu menandakan kita tidak takut pada Allah swt. Kita belum merasakan begitu dekat, cinta dan dicintai kepada Allah swt. Maka apapun yang diperintah dan dilarang-Nya akan kita taati tanpa perlu memilih dan menimbang-nimbang dahulu, agar kita menjadi dekat, cinta dan dicintai oleh Allah swt. Kalau berbeda pendapat dengan orangtua, seperti dalam surat Al Luqman ayat 15 yang artinya dan jika kedua orangtuanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik. Taat kepada orangtua dalam semua perintah dan larangan keduanya, selama di dalamnya tidak terdapat kemaksiatan kepada Allah, dan pelanggaran terhadap Syariat-Nya, karena manusia tidak berkewajiban taat kepada manusia sesamanya dalam bermaksiat kepada Allah swt…..”
Pulangnya, “Braak!” “Oh, nyuwun pangapunten, neng.” ujar perempuan tua itu. “Tidak apa-apa koq, Bu.” jawabku. Yaah, meskipun bajuku kena jamu, kasihan ibu itu sudah tua (sudah nenek-nenek) masih jualan. Kemana anaknya ibu ini? Masa’ ibu sendiri di suruh jualan sendiri (Huus! Tak boleh Su’udzon). “Ke rumah saya dulu aja, neng. Nanti saya cucikan baju, eneng.” sahut ibu itu. “oh ndak usah, Bu. Terima kasih,Bu. besok seragam ini tidak dipakai lagi koq, Bu.”tolakku dengan sopan. “Nggak apa-apa koq, neng. Besok kan hari minggu, nanti saya merasa menyesal.” Aku jadi merasa bersalah. Meskipun begitu, aku akhirnya mengikuti ibu itu juga kerumahnya. Waah, rumahnya cukup besar dan megah. “Ini rumah majikan saya, kalau rumah saya ada di belakangnya.”ibu itu menjawab keterkejutanku. hi..hi..jadi malu, sepertinya ibu itu tahu apa yang sedang aku pikirkan. Aku disuruh ibu itu memakai baju anaknya, bagaimana bisa nolak? Kalau menolak aku harus pakai apa. Sambil menunggu, aku membaca buku fiksi yang jumlahnya banyak banget dirumah majikan ibu itu “Assalamualaikum!”sepertinya aku mengenali suara ini. “Ze..us!”seruku. “Kamu…koq ada disini, sich. Mau memata-matai aku,ya!”dia juga balas terkejut. “Ih, GR banget,sich!” Mangkelku dalam hati. “waalaikumussalam. Oh, non sudah pulang yaa! Saya siapkan makan siangnya dulu, ya Non”. Ibu itu pergi kebelakang.
“Tunggu!” Zeus menghentikan langkahnya kedapur. “Ada apa?”tanyanya dengan sinis. “Tolong jelaskan apa maksudnya dirimu dipanggil Ukhti atau non?”tanyaku dengan beruntun. “Ha..ha..ha..kamu nggak bego,kan? kalau dipanggil begitu aku perempuan, dong. Dasar bego!”aku jadi takut untuk bertanya lagi.
Habis makan siang, dikamarnya Zeus dia bercerita banyak tentang dirinya dan keluarganya. Sebenarnya nama aslinya Afifah Nur, karena dia sering lihat film Hercules dan yang namanya Zeus itu bisa berbuat apa saja tanpa larangan siapapun, aku hanya bisa mengurut dada dan berighstifar. Dia mempunyai adik perempuan namanya Ainaya Nur. Suatu hari dia memakai jilbab lebar seperti aku, Ifah atau Zeus juga ingin seperti adiknya anggun, damai dan lembut. Tapi, suatu hari orangtuanya memergoki adiknya memakai jilbab itu. Semua jilbabnya dibakar dan disobek-sobek, Al-Qur’annya dibuang, adiknya hanya bisa tersenyum sabar. Ifah tidak bisa berbuat apa-apa. Ketika dia ingin membantu adiknya, dia terkena pukulan dipunggungnya. Aku hanya bisa mengucap sabar dan istiqomah saja. Karena tidak tahan, ia melarikan diri ke suatu tempat (katanya panti asuhan). Setelah kejadian itu, orangtuanya jadi tidak semakin peduli dengannya maupun adiknya. Tiba-tiba, ia mendengar kabar dari salah seorang teman dekat adiknya kalau adiknya sudah meninggal karena kecelakaan motor tanggal 2 September lalu. Pada saat pemakamannya orangtuanya tidak hadir, Ifah jadi semakin benci pada orangtuanya dan para jilbaber serta Allah swt. Setelah bertemu dengan ibu tua itu, marahnya mulai surut. Apalagi saat bertemu denganku, dia jadi ingat sama adiknya karena sifat dan wajahnya mirip dan ketika mendengar uraian dari pak Ustadz, tadi siang. Ketika dia pulang, dia mengambil surat dikotak pos dan mendapat surat dari pengurus panti asuhan Islam kalau dia diminta oleh adiknya untuk menggantikan dirinya untuk turut serta mengasuh anak-anak panti asuhan.
Malamnya, aku ceritain semuanya kepada mbak Azizah sama mas Azis. Mbak Azizah cuma manggut-manggut saja, mas Azis lebih parah dia berkali-kali menguap. Aku juga marah sama mereka koq tidak kasih tahu kalau Zeus itu perempuan. Mas Azis malah ngomong gini “Makanya gaul dong, masa’ cuma gaul ama buku-buku jelekmu itu!” Iihh, jahat!!!!! aku mukul mas Azis pakai bantal dan guling, mbak Azisah cuma senyum-senyum doang. Ya, Allah semoga keakraban dan keceriaan kami tidak berakhir. Amiiin!
24 Juli 2005
Horeee! asyik hari minggu aku mau beres-beres rumah dan…..baca buku,dong! “Kriiiing!” bunyi apaan, tuh. Yang jelas bukan suara bang bakso dan bang becak. Oh, suara telepon. Aku bergegas mengangkat telepon “ Assalamualaikum, halo siapa ini? “Eci, om.”jawab suara diseberang. “hallllo, jangan bercanda ya!!” “Ha..ha..sori, ini aku Ifah kamu mau nggak kuajak ke suatu tempat.” “Ke mana?” “Ada deh! ku tunggu di depan rumahmu, yaa.” “Eh, tunggu..” Tuuuut! yah, sudah ditutup, aku mau ganti baju dulu. Ning..nong..cepat banget,sich! “Iya, bentar.” Subhanallah, dia pakai jilbab kaos lebar. “Kita mau kemana?” tanyaku lagi. Dia diam saja. Motor pun melaju dengan kencang.
Aku membaca papan didepan rumah tua itu “Panti Asuhan Aminah”. Aku mengerti kalau dia menyanggupi permintaan adiknya. Disana banyak sekali anak perempuan kecil berlarian dan bermain, ada anak yang berkata begini “Kakak ini wajahnya mirip banget laki-laki beda dengan kakak disampingnya yang anggun itu(sambil nunjuk aku)” aku tersenyum melihat Ifah mukanya merah karena malu. Ifah mengajar anak-anak itu penuh semangat.
Pulangnya, di taman.. “Selamat, yaa” ujarnya, “perasaan hari ini bukan hari spesial, dech.”pikirku. “Ini sebagai tanda terima kasihku padamu tolong dijaga ya.” aku membukanya, isinya adalah sebuah kotak musik dengan kartu ucapan berwarna hijau muda, indah sekali. “Aku ingin melanjutkan keinginan adikku…dan aku ingin kau jadi sahabatku” aku cuma mengangguk. “Ngomong-ngomong, tolong ajari aku pakai jilbab kain sepertimu, dong!” Subhanallah, kali ini aku tersenyum bahagia.
25 Juli 2005
Aku terdiam lama sekali saat mendengar bahwa Ifah meninggal. Ya Allah, ternyata maut begitu dekat. Menurut sepengetahuan ibu tua itu, karena tidak sabar ingin memakai jilbab, dia pergi sendiri naik motor ke toko pakaian muslimah dan membeli jilbab. Tanpa ia sadari, dari arah kanan truk sedang melaju kencang dan menghantamnya. Nyawanya tidak dapat tertolong lagi. Setetes darah menghiasi jilbab biru muda yang dipeluk oleh seorang gadis berwajah cowok. Bertahi lalat di leher. Tapi, seulas senyum menghiasi wajahnya yang terbujur kaku.
Aku menatap kembali diary lamaku. Membuka kembali kartu ucapan yang sudah lecek karena sering kubaca, memahami makna dari sederet kata mutiara yang tertulis disitu. Kalimat yang tertulis……
“Sahabat sejati adalah seseorang yang manakala kita tegak, ia tegak di samping kita, dan manakala kita lemah dan sakit serta nyaris terjatuh, maka ia akan mengingatkan dan menopang kita” terima kasih banyak, Ara…..kau mau menjadi sahabatku yang mau mendengarkan ceritaku. (Ifah/Zeus wanita yang ingin berhijrah.)
Air mataku menetes tepat di atas tulisan (Zeus…). Tidur yang nyenyak ya, Ifah…. Semoga kau bahagia dan tenang dialam sana.
Juara 1
Lomba membuat cerpen waktu KTS Semester 1 kelas 1 SMP